CERITA EMPERAN

Langit biru seakan menyeruak menabuh hati yang terik..
Angin enggan menghempaskan sebab ada kau..
Kau bersama dia..
Semestaku seakan runtuh seketika..
Kemudian badai menghantamkan asaku yang bermekaran…
Rasaku luluh lantak dijalanan..
Kacau,,

Aku mengeja kembali tentang arti dirimu
Sebelum waktu menghapusnya dalam ingatanku..
Puzzle-puzzle yang kita rangkai
Kembali berantakan
Tak beraturan..
Susah payah kita merangkai dulu
Hari ini kembali menjadi misteri..
Sebab wanita itu!!

Orang ketiga yang kau hadirkan merusak anganku bersamamu…
Bersenang-senanglah…
Jangan takut aku akan mengganggumu..
Karena aku tau di ganggu itu tidak mengeenakan..

Tuhan memang maha asyik, mengambil orang yang ku kira berarti dengan sakit yang melejit seperti ini..
Kemudian memasangkannya dengan wanita murah dipinggiran jalan
dan kulihat serasi sekali kalian rupanya..
Lelaki emperan dan wanita pinggiran jalan..

Aku tau sayang kau terlihat nyaris sempurna,,
Namun ku lihat betapa cacatnya mentalmu..
Tampan dan mapan mu tidak lagi mempan menerpa aku untuk mengampuni kau yang telah berkhianat

Aku tidak menderita,,
Aku tengah berpesta hari ini..
Merayakan kehilangan lelaki ku yang terambil..

Dulu kita tidak lebih seperti sepasang sendal jepit yang selalu bersama kemana pun..
Sebelah sendal ku di curi orang yang membutuhkan..
Lalu harus ku apakan,,?
Ikhlaskan saja.
Nanti ku beli lagi, uangku banyak.

😂

Iklan

KESATRIA ZONK

Seperti itukah lelaki lain dikata lain di hati, seakan jujur itu sulit. Dia pandai sekali bermain peran dengan bujuk rayunya yang menawan. Lelaki yang berpindah-pindah hati setiap bulan gunta-ganti cinta. Menbuat ku semakin jijik dan muak padanya.

Sudah terlalu banyak aku menemukan para lelaki payah seperti itu, dan itu membuat ku sadar bahwa lelaki baik semakin langka kutemukan. Sebenarnya banyak hanya hati selalu bertele-tele menyetujui tentang siapa yang layak untuk mendekati.

Awalnya aku kira dia adalah lelaki terbijaksana setelahnya, namun aku salah. Ternyata itu adalah salah satu trik jitu dalam memikat hati wanita. Ku akui memang, aku menyukai lelaki yang menjadi leader dari yang lain. Aku menyukai lelaki yang tidak sekedar pintar, tampan atau mapan. Tapi aku menyukai lelaki yang bermental pemimpin. Sebab dia seperti kesatria yang pemberani dan aku adalah putri yang terkurung dengan nasib menjomblo selama 2 tahun dan ketika hendak keluar ada naga api yang menjaga. Lalu kesatria pemberani itu datang ia mengalahkan naga jahat lalu mengeluarkan kutukan jomblo setelah dua tahun ini.

Sang putri yang terkurung jatuh cinta pada kesatria yang telah mempertaruhkan nyawa untuk menyelematkannya. Kemudian kesatria itu pun berjanji akan melindungi sang putri selama hidupnya, sang putri pun semakin jatuh hati dan ia telah memutuskan bahwa kesatria itu adalah sosok yang pantas untuk menjadi pendamping hidupnya.

Ahh… Dongen yang nyaris sempurna bukan? DAN kenyataan sebenarnya setelah putri itu terbebas dia melihat kesatrianya sedang makan malam dengan wanita lain. Hati putri hancur dan kecewa pada kesatria itu kemudian dia memutuskan kembali untuk mengurung dirinya di ruang kejombloan. Sang putri merasa tertipu dan dia kembali menunggu kesatria sejatinya yang akan datang menyelamatkannya dan tidak akan berpaling pada putri lain selain dirinya.

Yah seperti itulah kiranya yang aku rasakan. Bukan perihal patah hati karena telah terdambat pada sosok yang salah namun kecewa karena telah berharap pada sosok yang hanya sekedar singgah dalam hatinya, hanya membuat bahagia sementara, hanya mengeluarkan aku dari kesedihanku lalu setelah itu dia mengurungku kembali dengan waktu yang mungkin lama.

Begitulah lelaki payah setelah diperjuangkan kemudian seenaknya di tinggalkan.

Lelaki payah

Aku yang biasa-biasa saja hanya bisa apa??

Begitu lah lelaki, terkadang bertindak seenaknya, jatuh cinta semaunya, berpindah hati sesukanya. Lelaki seperti itu harus kusebut lelaki yang tidak tau waktu atau tidak tau malu. Namun yang jelas aku tidak menyukainya.

Satu bulan lalu dia bilang mencintaiku, hari ini dia bersama wanita lain. Rasanya ingin ku dorong lelaki seperti itu ke sungai Amazon biar tertelan anaconda sekalian. Bukan karena cemburu, hanya menurutku itu tidak pantas. Bermain-main dengan perasaan itu tidak baik, belum saja dia dibuat menangis olehnya. Aku harap secepatnya perasaan yang ia mainkan akan membalasnya. Biar tidak semakin menjadi menyakiti banyak hati.

Aku hanya menyesal karena telah berniat membuka hati untuknya, aku sedikit terlena dengan berbagai usahanya yang mendekatiku. Tapi aku sadar itu hanya alibi dari seorang lelaki pemain perasaan perempuan. Masih untung tidak kuterima, insting hati memang benar terkait perasaan pada seseorang yang berkata menginginkannya.

Dan kau lelaki terpayah yang kutemui terimakasih telah mengingatkanku kembali bahwa tidak semua lelaki setia tentang perasaannya. Aku akan lebih hati-hati untuk menjatuhkan hati agar tidak menyematkan sakit seperti yang sudah-sudah.

Tuhan.. Jauhkan aku dengan lelaki payah seperti dia. Aku sudah terlalu benci menghadapinya. Memang terlalu banyak lelaki yang mendekati akhir-akhir ini dan membuat ku pusing bukan main. Pusing mendambatkan hatiku pada siapa??? Mungkin padamu. 🤔

UNTUK YANG TERKENANG DARI ATAS KETINGGIAN

“Kita tidak punya apa-apa selain kenangan
Kita tidak membawa apa-apa selain kenangan.”

Ini tentang lelaki yang tidak ku tau namanya. Dan aku berhutang terimakasih padanya. Setidaknya sebelum aku turun ke bawah dari puncak gunung. Aku perlu berterimakasih padanya, memandang wajah nya untuk terakhir kali.

Entah apa yang akan terjadi jika lelaki itu tidak ada, mungkin aku akan mati kedinginan sebab suhu pada waktu itu mencapai 3°. Ini memang pertama kalinya aku naik gunung. Dan itu menjadi sangat menyenangkan berkat lelaki itu.

Wajahnya begitu pucat melihat aku yang mengigil menahan dingin, dada ku terasa sakit. Paru-paruku seakan membeku. Dia berlari-lari mencari sesuatu, yang bisa dibakar. Padahal kita tidak saling mengenal.

Setelah apinya menyala,, dia tidak menjauhiku. Dia duduk disamping dan melirik kasihan padaku sesekali. Aku merasa berharga diperlakukan olehnya. Meski tak berani aku mencoba melihat wajahnya, masker yang ia gunakan rasanya ingin kulepaskan, sungguh aku ingin menatapnya. Tingkah lakunya menjadi pusat perhatianku, ia sama sekali tak diam menjaga agar api itu tidak padam.

Aku duduk sebari menghangatkan badan ku dekat api, kemudian ia memberiku sebuah roti dan membuka wajahnya yang tertutup masker. Aku seakan di buat mati tak berontak di buatnya, matanya yang coklat hanya itu yang ku ingat. Aku bahagia sekali rasanya aku tidak ingin pagi, aku ingin disini bersamanya di puncak ketinggian menunggu sun rise. Tahukah? aku begitu bersyukur sebab Tuhan mempertemukan aku dengan lelaki baik sepertinya.

Andai dia tau bahwa hari-hari aku mencari lelaki pemilik mata coklat, berharap dapat berjumpa kembali dan akan ku ucapkan terimakasih padanya.

Memang selalu ada cerita dibalik perjalanan ke puncak gunung, bukan tentang banyak pohon indah yang ku temui atau melihat kemilau daratan diatas awan. Namun cerita indah ku dapat dari sini, Dimana Tuhan telah menawan hatiku pada lelaki asing itu, aku menemukan sosok lelaki yang membuatku jatuh hati untuk pertama kali setelah 7 tahun aku tidak merasa jatuh hati lagi.

Ku harapkan kau tidak akan keberatan mengenang aku sebagai wanita asing yang kedinginan. Percayalah hari ini aku merasa sangat direpotkan oleh rindu padamu yang tidak mungkin menemukan temu.

Terimakasih lelaki asing pemilik mata coklat, ku ucapkan selamat malam untukmu dari tempat yang begitu jauh.

DANDELION

Setelah berbulan-bulan lamanya. Aku rasa, aku perlu menaruh dandelion di mata coklatmu itu. Agar jika waktu memang tak membawaku untuk bertemu denganmu, angin akan menghantarkan dirimu terbang menemuiku. Angin, jika pun hanya sebatas bayangan tentang lelaki itu yang kau selipkan padaku, aku akan menunggu hingga kau datang membawanya. Hempaskan saja dia, meski hanya sekejap mata aku memandangnya. Karena rasaku seakan telah meluruh pada rupa lelaki asing itu.

Kepada palung malam, lihatlah.. ruang gulitaku kini telah terang dengan kehadiran sosok lelaki asing yang kutemui 4 bulan kemarin. Dia yang kukenal meski lewat angin dengan bahasa yang bisu namun dia telah menyapu bersih ruang kosong yang usang nan berdebu. Hai kau, si pemilik mata coklat. Kelak jika kita bertemu kembali, sapalah aku yang telah lupa menjawab rasa yang serupa.

Di bawah langit Malinau jingga yang mempesona, aku terduduk di tengah belantara ilalang yang mengering dipelantaran bukit. Menggoda pada langit agar ia segera menurunkan hujan sore ini. Ribuan kata-kata seakan melompat disaat pikiranku terbang menujumu. Aku terdiam merasakan hembusan angin, memang aneh sekali bukan? Ada rindu untuk sosok yang begitu asing. Semacam rindu pada sebuah rumah yang sama sekali tidak pernah kutinggali. Entahlah, aku tak tau rindu ini dari mana ia berasal.

Ponselku bergertar, satu pesan kuterima kemudian aku membacanya. Ada pesan kaleng sore ini darinya. Ahh… aku begitu senang sekali. Pesan ini seakan meledakan rindu yang tak kukenali sedari kemarin, senyum dan tawaku seakan telah pecah kemudian berhamburan di sana-sini. Jagad khayalku seketika tumbang karena disaat aku  menengedahkan dirimu, kau mengun-dangku untuk bertemu.

Setelah lama menunggu, akhirnya takdir membawaku untuk menemuimu yang kedua kali. Hari itu kulihat langit biru menyibakan kecerahan yang sempurna. Aku tidak sabar melihat alamanda indah yang beragam dalam perjalanan ini menuju tempatmu. Aku bersama 4 sahabatku yang kau undang datang. Hadir bukan untuk memetik alamanda yang kau tanam 4 bulan lalu. Aku tidak akan meminta untuk menggemgamnya, cukup dengan melihat alamanda-ku telah tumbuh indah dan bersemi saja, aku sudah bahagia.

Aku tiba, dan sesudah aku melihatmu kebahagian seakan telah memeluku begitu hebat. Kepada mata coklat, apa kau merasakan debaran-debaran ini? Debaran yang begitu kencang sampai melibas seluruh bahasa dan ungkapanku. Hatiku seperti sudah mengenalmu dengan begitu dekat, padahal kenyataannya aku tak tau siapa dirimu? Siapa namamu dan dari mana asalmu? Kegusaran menghampiri diriku setiap kali menatap wajahmu itu, aku tak menegerti bagaimana cara mengartikan setiap hal yang kurasa saat ini. Lelaki itu datang tanpa aba-aba, kemudian ia menaruh seluruh rindu begitu saja. Dia kah pangeran senja yang hadir untuk mengisi hari-hariku yang sepi?

Wajah asing yang selalu dihantarkan angin itu, hari ini ia nampak sangat ceria, wajahnya seakan dilumuri oleh tawa dan mulutnya tak berhenti selalu berkata-kata. Tidak ada yang berbeda dalam pertemuan ini, masih dalam keadaan yang ramai dan aku hanya bisa menatapmu di tempat kau berdiri. Tidak lama Kemudian kau duduk berada di sampingku. Kau kembali mengundangku dengan kalimat tanya, tapi saat itu mulai ada yang berbeda, mataku dan matamu seakan ikut berbicara. Keduanya seakan memecahkan rindu yang teramat berat. Ada apa dengan aku dan lelaki asing ini? Apa kah selama ini diam-diam kita saling merindukan? Bagaimana mungkin tahu namanya saja, tidak.

Hai pemiliki mata coklat, rupanya kau adalah teman berbincang yang asyik meski kita tidak saling mengenal. Sekarang kau bisa memanggilku Zia, senang bertemu.

 

images (25)

 

 

 

 

 

 

 

denganmu hari ini.

Untuk Perasaan Yang Tidak Kuberi Titik

Aku tidak ingin mengingat kembali pada sekuntum manis janji mengering, yang terhempas dan tak bersemi. Aku akan melupakan dimulai rasa cinta dan sakit karenamu. Inilah aku yang seketika cinta tak mampu melupakan dengan jarak yang sebentar, tak mampu mengganti dengan mudah untuk menetapkan kembali, walau hanya sekedar singgah untuk memulihkan rasa sakit agar terobati, namun rasanya tidak pantas aku melabuhkan hati hanya sebagai sandaran dari rasa sakit. Bagaimanapun aku masih punya hati, dan hati ini hanya satu-satu yang kumiliki, keberadaannya bukanlah untuk dijadikan sebagai permainan yang dime-nangkan

 

 “Ribuan mil aku telah berjalan sendiri, tapi aku tak merasa sepi. Bukan karena ada dirimu, Akan tetapi karena aku berjalan bersama rinduku padamu yang selalu setia menemani”

​            Pikiranku tentangmu sangat kental menjelang langit gelap dari biru berubah menjadi abu-abu, mendung. Pertanda hujan akan turun dan aku perlu bersiap diri. Bukan untuk membawa payung karena takut kebasahan dihantam guyuran hujan, bukan. Akan tetapi aku harus bersiap untuk diriku sendiri, agar hujan tidak akan membawa hatiku untuk terlelap diam bersama rindu yang menyedihkan.

Kau tau sayang? Ada kebiasaan baru yang sering kulakukan dikala hujan datang. Aku menengadahkan kepalaku agar setiap tetes airnya menghapus ingatanku tentangmu. Aku tidak peduli jika decak-decak hujan meninggalkan rasa pusing di kepalaku, yang aku mau hanya untuk melupakanmu. Terkadang aku merasa konyol sendiri melihat aku saat ini. Kenapa aku harus melupakanmu? Kenapa aku harus begitu bersusah payah hanya untuk tak mengingat nama yang membuatku rindu? Bukankah dulu kau yang selalu mengatakan bahwa aku harus selalu mengingatmu dan merindukanmu? Dan sekarang aku sudah bisa melakukan hal itu, kemudian dengan mudah kau membuatku untuk berhenti mengingat segala hal tentangmu dan terbiasa merindukanmu. Itu tidak lucu sayang.

Aku seperti melangkah kembali kebelakang setelah berlari-lari jauh menujumu. Permainan apa ini? Kenapa aku harus melakukan sesuatu yang pada akhirnya membuatku sakit hati? Kau, kau sendiri yang membuatku jatuh cinta namun kau sendiri yang menjatuhkan cintaku pada setandan duri yang membuatku begitu terluka. Mungkin memang karena itulah kau sangat pantas untuk kulupakan.

Entah ini purnama keberapa untuk hati yang bernanah.  Memang terasa seperti diperolok oleh waktu di saat seperti ini. Mungkin karena waktu terlalu senang melihatku yang selalu melepaskan malam, karena ia telah merengkuhku pada segala ingatan yang menghimpit dada. Lalu kenapa masih saja ada rindu padamu? Pergilah segala rindu, kau telah menjamah seluruh waktuku. Karena kau yang membuatku terikat sakit olehnya sampai ke seluruh arteri jantung dan nadiku.

Kau tau? Dalam setiap saat aku mengingatmu, rasanya aku sangat ingin menghentikan napasku. Bukan berputus asa karena telah ditinggalkan olehmu, namun karena sakit ini telah mencabik-cabik hidupku. Dirimu adalah kesakitan yang tidak terobati. Tapi tenang saja, secepatnya aku akan mencari penawar biarpun hanya sekadar untuk menahan nyeri dari rasa sakit ini. Aku tidak akan membuatnya berlarut-larut, mungkin sebagai langkah awal untuk mengobatinya aku akan melupakanmu.

Andai aku bisa membencimu, mungkin rasa sakit itu tidak akan separah saat ini. Tapi aku tidak bisa, aku lebih memilih untuk membenci perasaanku sendiri karena keberadaannya telah melebihi batas-batas yang kumiliki. Rindu yang datangpun sudah tak kupedulikan, aku sangat ingin mensudahi semua ini karena jika perasaan itu tidak juga pergi akan membuat hatiku mati. Duhai waktu, kenapa kau seperti demikian? semua itu hanya akan membuat sakit padaku yang tidak kunjung reda. Lalu aku akan kehilangan cara walau hanya sekedar mencari obat untuk menahan nyeri di dada.

Tetap saja, sejauh usahaku untuk mengusir pergi perasaan dan rindu ini, ingatanku akan selalu merengkuh pada sebuah nama yang dulu menjadi pelantara senyum dan bahagiaku. Kau masih saja membuatku enggan berhenti bercerita atau pun berdoa, kau masih saja menjadi alasan dari setiap hal yang aku lakukan namun saat ini kau pula yang menjadi alasan terbesar untuk kulupakan. Semua itu kulakukan demi kebaikan kita berdua, mari kita pergi  menuju pada bagian takdir dari masing-masing.

Sayang, kau harus tahu satu hal. Ketika kita sudah yakin menemukan bagian takdir yang selama ini kita cari, tidak akan mungkin mudah kau tinggal pergi dengan berbagai alasan apapun. Kau pasti akan tetap memperjuangkan dan menjaganya bukan melepaskannya seperti saat sekarang bukan? Baiklah, aku sudah paham.

Aku tidak ingin bernasib seperti cawan terisi kopi yang kau diamkan setelah kehangatanku hilang  atau yang setelah kau reguk hingga tiada sisa dengan ringannya aku kau tinggalkan. Jangan kau robek setiap inci masa depanku dengan cinta yang tiada bukti seperti ini, sebab itu akan sangat menyakitkan. Bukan karena ingin dicicipi aku ada dalam hidupmu, tapi untuk kau miliki. Karena untuk menjadi secangkir kopi yang ada dihadapanmu sekarang, kau tak tau apa saja yang telah dia lakukan.

Rasanya aku seperti berjuang di dua jalan, jalan melupakan dan jalan untuk mewujudkan harapan. Sebab saat ini  jalan yang ku tempuh keduanya jelas berbeda tidak sama seperti saat dulu, layaknya sedang meniti jalan di dua arus yang maju atau mundur ke belakang. Apa yang harus aku lakukan? ketika harus berjalan di dua arus dalam waktu yang sama? Apa aku bisa? Sampai kapanpun aku tidak akan bisa berjalan baik ke depan atau pun ke belakang. Aku akan kesulitan dan akhirnya aku hanya akan diam ditempat yang sama. Yang harus kulakukan adalah dengan memutuskan untuk memilih salah satu jalan yang akan kau tinggalkan, menunggu karena masih percaya atau melupakan untuk mewujudkan harapan?

Aku tidak ingin mengingat kembali pada sekuntum manis janji mengering, yang terhempas dan tak bersemi. Aku akan melupakan dimulai rasa cinta dan sakit karenamu. Inilah aku yang seketika cinta tak mampu melupakan dengan jarak yang sebentar, tak mampu mengganti dengan mudah untuk menetapkan kembali, walau hanya sekedar singgah untuk memulihkan rasa sakit agar terobati, namun rasanya tidak pantas aku melabuhkan hati hanya sebagai sandaran dari rasa sakit. Bagaimanapun aku masih punya hati, dan hati ini hanya satu-satu yang kumiliki, keberadaannya bukanlah untuk dijadikan sebagai permainan yang dimenangkan.

Ingin rasanya aku bernyanyi bersama elegi risau di beranda langit senja, walau terasa bodoh karena aku telah melekat dengan waktu yang tidak singkat. Kemudian cinta yang didapat adalah kepalsuan yang menjerat dan akhirnya aku menjelma sebagai wanita dengan sendu yang penuh kepiluan. Sebab harapan indah yang pecah menjadi lempengan duri yang menusukku setiap saat.

Katakan apa yang kau mainkan dibelakang layar kala harapanku tumbuh mekar? Apa yang kau lakukan setelah hari-hari jauh kutempuh? Apa kau tak memiliki harapan yang sama, hingga kau tak mampu bertahan untuk mewujudkan impian? Dan apa yang kau lakukan setelah semuanya telah terbongkar? Kau akan menyangkal atau memberi jawaban kebohongan? Apa harus kukatakan kau telah berhasil membuat hari-hari terburukku bangkit setelah kau tinggalkan, apa kau tak sadar bahwa ada orang yang sungguh mencintaimu? Terkadang aku berpikir bahwa cintamu adalah sebuah hipnotis namun ada yang berbeda sebab setelah kau pergi bukannya sadar seperti semula malah ada luka menghujam hati hingga kronis seperti ini.

Lantas, untuk apa aku menunggu selama ini? menetap bersama rindu dan harapan indah untuk kita wujudkan bersama? Semuanya jelas sudah tidak ada. Kupikir awalanya kau adalah tujuan. Ya… Kau adalah tujuan, tujuan yang menjadi ujung dari perjalanan panjang yang melelahkan ini. Dan segala pengorbanan yang kulakukan kupikir adalah jalan untuk mempermudah. Namun pada akhirnya kutemui kenyataan yang sebenarnya, kini setiap harapan yang kutaruh di pundakmu telah menjadi debu, doa yang membasahi kedua mulutku telah menjadi abu dan rindu yang menghias hari-hariku telah menjadi asap yang tidak akan lagi bisa kau sentuh. Karena semua hal indah yang kau tanam hingga tumbuh dan meranumi seisi jiwaku telah rubuh, telah kau hancurkan, kau jatuhhkan dan kau patahkan. Kau bukanlah tujuan.

Awalnya aku sempat melemah dan menyerah pada hati yang bersimbah darah karena kedua kakiku seakan tak ingin kembali melangkah. Aku seakan dikelilingi duri dari altar cinta yang kau beri. Hari-hariku seakan tumpah di lengkung durja yang merayap memeluk hati yang sedang terluka, rasanya setiap detik yang kujalani seperti membakar urat nadi ini yang akhir-nya membuatku mati.

Aku hanya akan tersenyum jika suatu hari kita bertamu lagi, jangan tanya aku berdiam sebab kedua bibir ini sudah kelu jika harus berbicara denganmu. Aku memang seakan kehilangan daya, namun aku tak akan berhenti untuk tetap percaya bahwa suatu hari nanti hal yang menyakiti akan diganti dan kebahagian itu akan kumiliki.

Aku tidak akan membawa luka ini hingga mati, untuk apa mendekap sesuatu yang membuat kita sakit hati. Menyimpannya adalah kebodohan karena jika luka itu menetap akan menjadi penghalang untuk menatap masa depan. Hidupku masih panjang. Masih banyak hal yang harus kulakukan. Aku tidak ingin hari-hariku dihujani masa lalu lagi.

Pada akhirnya aku memahami satu hal, sebuah perasaan tidak ada yang mampu mengatur selain Tuhan. Perasaan memang seperti hujan yang turun bukan? Tidak ada yang bisa mengatur kedatangan, kepergiaan hingga berapa lama ia akan tinggal. Iya,,, walau pun terkadang aku berpikir bahwa cintaku seperti hujan, sekalipun aku menolak padamu ia akan datang.

 

***

“Aku tidak ingin bernasib seperti cawan  terisi kopi yang kau diamkan setelah kehangatanku hilang  atau yang setelah kau reguk hingga tiada sisa dengan ringannya aku kau tinggalkan. Jangan kau robek setiap inci masa depanku dengan cinta yang tiada bukti seperti ini, sebab itu akan sangat menyakitkan. Bukan karena ingin dicicipi aku ada dalam hidupmu, tapi  aku ada untuk kau miliki. Karena untuk menjadi secangkir kopi yang ada dihadapanmu sekarang, kau tak tau apa saja yang telah dia lakukan”

 

images (24)

 

AKU DI 4 JANUARI

Hai Dewi, hari ini adalah hari yang kamu tunggu bukan? Berhentilah untuk mengharapkan permintaan sama yang selalu kamu panjatkan dari tahun ke tahun. Tidak usah aku sebutkan kau lebih tau alasannya sekarang. Dan akan lebih baik jika tidak ada tangisan lagi untuk tahun ini. Tersenyumlah manis seperti itu, lalu aminkan setiap doa dari orang-orang yang peduli padamu. Tidak usah mengemis meminta seseorang untuk memberi ucapan selamat. Berhentilah bersikap bodoh seperti itu, aku tau kau sangat benci untuk melakukannya.

Kau tau berapa usiamu sekarang? Dewi sadar kah bahwa kamu sudah berusia 21 tahun, itu artinya kamu adalah gadis dewasa sekarang. Berhentilah bersikap konyol meski aku tau itu menyenangkan. Atau kekonyolan itu adalah sandiwara dari carut marutnya kehidupanmu. Ahh aku begitu tau beberapa akhir tahun ini begitu menyulitkan namun aku percaya kau pasti bisa melewatinya. Jadilah wanita tangguh yang membanggakan orang-orang yang menyayangimu.

Mari kita berbicara hati, mimpi dan keluarga. Aku ingin mengingatkan tentang 3 skala prioritas hidupmu ini yang sudah kamu lupakan. Aku paham posisimu, namun kamu harus tau. Jangan lampiaskan rasa sakit itu pada dirimu sendiri. Dirimu bukan robot yang dapat kau perintah kapanpun kamu mau, Kamu lupa pada dirimu sendiri wi. Dan aku sedih melihatnya. Aku tidak melihat dewi yang tertawa riang seperti dulu, saat ini yang kulihat adalah dewi yang kacau balau dalam hal apapun. Ada apa? Berterus teranglah. Aku tau kau sangat benci sendiri saat ini karena itu kau lebih senang berkumpul dengan banyak orang. Dewi ingatlah Tuhan dalam hatimu. Aku ingin di Usia 21 tahun kau lebih dekat dengan Tuhan. Mintalah padanya untuk disembuhkan. Dan segera mendapat pengganti. Pepatah bilang yang hilang akan lebih baik jika mendapat ganti. Benar kan?

Tidak usah menunggu lagi, untuk apa? dia belum tentu akan kembali. Seberapa lama ia menetap jika ia memutuskan pergi maka hal yang pantas untuk dilakukan adalah dengan tidak mencari tentang apa pun yang berkaitan dengannya lagi. Mulailah hidup baru dan bahagialah bersama orang yang menyayangimu. Mulailah menerima orang yang mencintaimu. Lihatlah ketulusannya, aku percaya suatu hari nanti hati mu akan terbuka olehnya.

Aku berharap kamu akan lebih bahagia tahun ini. Tersenyumlah dengan semangat yang berkali-kali lipat, sambutlah usia mu dengan penuh syukur. Aku ingin kau menjadi wanita yang bermartabat. Jadi belajar dengan sungguh-sungguh agar kelak hidupmu bisa menebar manfaat. Dewi,, berjanjilah untuk tahun ini kau akan lebih baik dari sebelumnya. Sebab kau tau sendiri betapa singkatnya hidupmu ini yang tidak kau ketauhui kapan Tuhan akan mengakhirinya, jadi gunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya. Berhenti untuk melakukan dan memikirkan hal yang tidak penting. Kau tau mengapa? Karena dirimu begitu Berharga.

Boleh kah aku menyapa mimpi mu? Apa kau masih tidak berani untuk bermimpi kembali? Apa karena kegagalan itu telah mengubur semua mimpi mu? Hingga sekarang kau hanya pasrah begitu saja? Mau jadi apapun kau mau? Begitu lemah kau saat ini wi. Aku tau bangun dari jatuh itu berat, aku tau menelan kegagalan itu pahit, namun kau akan lebih tau jika kau hanya berdiam diri tanpa mencobanya kembali itu akan membuat hidupmu sulit dan sakit. Jadi berhentilah menjadi penakut yang bernyali kecut seperti itu. Lakukanlah hingga kau memenangkannya. Aku masih ingat kau selalu berkata dulu “Jika kau ingin mendapatkan sesuatu yang tidak pernah kau memiliki, Maka kau harus melakukan sesuatu yang tidak pernah membuatmu berhenti sampai hal itu kau miliki” Kau ingat dengan kalimat ini? Apa kau menjadi Amnesia yang lupa segalanya termasuk dirimu sendiri. Siapa pun dirimu nanti tetaplah menjadi seorang Dewi yang tidak pernah berkata lelah dan pantang menyerah. Kejarlah mimpi mu itu, Jangan biarkan menjadi langit yang tinggi namun hanya bisa kau pandangi.

Tentang keluargamu, kapan terakhir kali kau pulang? Kapan terakhir kali kau mengatakan bahwa kau begitu menyayangi mereka? Aku tau hidup tanpa orang yang kau sayangi itu berat. Namun itulah yang membuat dirimu lebih kuat wi. Untuk tahun ini rajin-rajinlah kau pulang, luangkan waktu untuk bersama mereka, dan bahagiakanlah mereka. Terutama untuk ayah dan ibu mu wi, jangan kau buat susah di usia senjanya dengan terus memikirkanmu. Wi aku tau bagaimana hidup mu sekarang, jadi berusahalah untuk menjadi lebih baik dan selalu lakukan yang terbaik.

JADI SELAMAT ULANG TAHUN DEWI,,,,,, 👼