AKU DI 4 JANUARI

Hai Dewi, hari ini adalah hari yang kamu tunggu bukan? Berhentilah untuk mengharapkan permintaan sama yang selalu kamu panjatkan dari tahun ke tahun. Tidak usah aku sebutkan kau lebih tau alasannya sekarang. Dan akan lebih baik jika tidak ada tangisan lagi untuk tahun ini. Tersenyumlah manis seperti itu, lalu aminkan setiap doa dari orang-orang yang peduli padamu. Tidak usah mengemis meminta seseorang untuk memberi ucapan selamat. Berhentilah bersikap bodoh seperti itu, aku tau kau sangat benci untuk melakukannya.

Kau tau berapa usiamu sekarang? Dewi sadar kah bahwa kamu sudah berusia 21 tahun, itu artinya kamu adalah gadis dewasa sekarang. Berhentilah bersikap konyol meski aku tau itu menyenangkan. Atau kekonyolan itu adalah sandiwara dari carut marutnya kehidupanmu. Ahh aku begitu tau beberapa akhir tahun ini begitu menyulitkan namun aku percaya kau pasti bisa melewatinya. Jadilah wanita tangguh yang membanggakan orang-orang yang menyayangimu.

Mari kita berbicara hati, mimpi dan keluarga. Aku ingin mengingatkan tentang 3 skala prioritas hidupmu ini yang sudah kamu lupakan. Aku paham posisimu, namun kamu harus tau. Jangan lampiaskan rasa sakit itu pada dirimu sendiri. Dirimu bukan robot yang dapat kau perintah kapanpun kamu mau, Kamu lupa pada dirimu sendiri wi. Dan aku sedih melihatnya. Aku tidak melihat dewi yang tertawa riang seperti dulu, saat ini yang kulihat adalah dewi yang kacau balau dalam hal apapun. Ada apa? Berterus teranglah. Aku tau kau sangat benci sendiri saat ini karena itu kau lebih senang berkumpul dengan banyak orang. Dewi ingatlah Tuhan dalam hatimu. Aku ingin di Usia 21 tahun kau lebih dekat dengan Tuhan. Mintalah padanya untuk disembuhkan. Dan segera mendapat pengganti. Pepatah bilang yang hilang akan lebih baik jika mendapat ganti. Benar kan?

Tidak usah menunggu lagi, untuk apa? dia belum tentu akan kembali. Seberapa lama ia menetap jika ia memutuskan pergi maka hal yang pantas untuk dilakukan adalah dengan tidak mencari tentang apa pun yang berkaitan dengannya lagi. Mulailah hidup baru dan bahagialah bersama orang yang menyayangimu. Mulailah menerima orang yang mencintaimu. Lihatlah ketulusannya, aku percaya suatu hari nanti hati mu akan terbuka olehnya.

Aku berharap kamu akan lebih bahagia tahun ini. Tersenyumlah dengan semangat yang berkali-kali lipat, sambutlah usia mu dengan penuh syukur. Aku ingin kau menjadi wanita yang bermartabat. Jadi belajar dengan sungguh-sungguh agar kelak hidupmu bisa menebar manfaat. Dewi,, berjanjilah untuk tahun ini kau akan lebih baik dari sebelumnya. Sebab kau tau sendiri betapa singkatnya hidupmu ini yang tidak kau ketauhui kapan Tuhan akan mengakhirinya, jadi gunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya. Berhenti untuk melakukan dan memikirkan hal yang tidak penting. Kau tau mengapa? Karena dirimu begitu Berharga.

Boleh kah aku menyapa mimpi mu? Apa kau masih tidak berani untuk bermimpi kembali? Apa karena kegagalan itu telah mengubur semua mimpi mu? Hingga sekarang kau hanya pasrah begitu saja? Mau jadi apapun kau mau? Begitu lemah kau saat ini wi. Aku tau bangun dari jatuh itu berat, aku tau menelan kegagalan itu pahit, namun kau akan lebih tau jika kau hanya berdiam diri tanpa mencobanya kembali itu akan membuat hidupmu sulit dan sakit. Jadi berhentilah menjadi penakut yang bernyali kecut seperti itu. Lakukanlah hingga kau memenangkannya. Aku masih ingat kau selalu berkata dulu “Jika kau ingin mendapatkan sesuatu yang tidak pernah kau memiliki, Maka kau harus melakukan sesuatu yang tidak pernah membuatmu berhenti sampai hal itu kau miliki” Kau ingat dengan kalimat ini? Apa kau menjadi Amnesia yang lupa segalanya termasuk dirimu sendiri. Siapa pun dirimu nanti tetaplah menjadi seorang Dewi yang tidak pernah berkata lelah dan pantang menyerah. Kejarlah mimpi mu itu, Jangan biarkan menjadi langit yang tinggi namun hanya bisa kau pandangi.

Tentang keluargamu, kapan terakhir kali kau pulang? Kapan terakhir kali kau mengatakan bahwa kau begitu menyayangi mereka? Aku tau hidup tanpa orang yang kau sayangi itu berat. Namun itulah yang membuat dirimu lebih kuat wi. Untuk tahun ini rajin-rajinlah kau pulang, luangkan waktu untuk bersama mereka, dan bahagiakanlah mereka. Terutama untuk ayah dan ibu mu wi, jangan kau buat susah di usia senjanya dengan terus memikirkanmu. Wi aku tau bagaimana hidup mu sekarang, jadi berusahalah untuk menjadi lebih baik dan selalu lakukan yang terbaik.

JADI SELAMAT ULANG TAHUN DEWI,,,,,, 👼

Iklan

Untuk Lelaki yang Lelah

kepada lelaki dekil yang mempesona
Dirimu kusambut di pelataran jalan kota
Kau begitu biasa tidak berwarna seperti langit jingga namun aku tau bahwa kau berbeda
Meski aku tak mengenalimu secara bijaksana

Masih terngiang dikepala
Saat-saat tercekamnya oleh suasana
Ku soroti wajah lelaki yang berdiri mengawasi
Hati yang ganjal akan situasi
Dan wajahmu terus mengeja tanda tanya
Tentang apa yang terjadi
Namun aku menjadi pemberani
sebab ada lelaki dekil yang akan melindungi
Sorak sorai terdengar hingar mengamuk
Tak berhenti meski dilerai hujan
Aku ternyata masuk dalam aksi yang ambigu
Terlambat untuk pergi
Akhirnya kuputuskan untuk menikmati
Tak peduli hati dihantui resiko yang siap mencabik diri

Si Lelaki dekil pun berdiri dipanggung orasi
Bak air yang memadamkan api
Suaranya mendinginkan suasana

Aku tersentuh oleh pribadinya sebongkah hati yang kumuh pun mengagumi dirinya yang lusuh
Dia si lelaki dekil yang tak pernah berhenti berpikir
Dan membuat aku sesosok yang sempat terluka hebat
Merasakan keindahaan sesaat
Sesaat setelah melihatnya
Sesaat setelah mengetahuinya.

BUMI PUN TAK MEMINTA HUJAN TURUN KEPADA LANGIT

Aku menunggu untuk sesuatu yang pasti datangnya, seperti bumi yang menunggu hujan turun. Tak perlu di undang kelak dia akan datang. Sebab kapannya telah ditentukan.
Kesedihan yang aku alami mungkin seperti musim kemarau yang mengeringkan bumi. Biar merintih kepada hujan pun untuk sekedar membasahi, hadirnya tetaplah nanti setelah musim berganti. Di saat lembayung bunga-bunga bersemi dan yang gugur akan terhenti di sanalah kau akan hadir di sisi.”

Sampai hari ini aku masih meyakini bahwa hal yang membuatku menunggu lama ada-lah segala hal yang menjadi pelantara untuk membuat hidupku bahagia. Jika resah dalam menunggu itu melanda, wajar saja ia ada hanya sekedar untuk menggoda seberapa tangguh aku menunggumu. Untuk mendapatkan sesuatu yang berharga kita harus rela berteman dengan waktu yang melelahkan.

Tidak masalah sayang, waktu yang panjang ini telah memberiku arti dari sebuah kerinduan. Ia ada bukan karena tak sering berjumpa tapi ia ada karena sebuah ketakutan jika cintamu akan menghilang.
Harus sebesar apa kesabaranku ini? Aku takut di tengah perjalanan, kau akan kehabisan kesabaran dan akhirnya kau memintaku untuk melepaskan apa yang selama ini kita jaga.

Sayang, sebab memang begitu dalamnya perasaan ini, aku tak kan rela melepasmu begitu saja. Kenapa? Karena lelah yang aku rasakan saat ini tidak sebanding dengan kebahagianku menemanimu. Aku telah berani untuk hidup susah bersamamu, menjalani setiap hal yang tidak mudah.

Jikapun nanti kau akan membayarnya dengan mimpimu, itu tidak akan cukup untuk membayar waktuku yang telah kuhabisakan untuk menemanimu.

Aku menunggumu bukan karena dirimu namun karena hati dan seluruh purau rasaku telah menjadikan hatimu sebagai rumah baginya. Dan aku akan tetap menunggu apakah dirimu pun akan pulang padaku, Aku yang masih menunggu apa kah hatiku telah kau jadikan sebagai rumah.

Dan kamu harus tau ketika menunggu hal yang kunikmati adalah saat-saat menenggelamkan diriku dalam doa, saat-saat yang indah untuk menyakinkan hati tatkala keraguan datang dan saat-saat yang bermakna untuk mempertahankan cintaku tetap berada disisimu. Semua yang kulakukan telah menjadi bahasa kerinduanku padamu. Sejauh apapun jarak melintasi kita berdua, ditambah dengan banyak orang yang meminta untuk melupakan, namun tetap saja padamulah aku tetap berjuang.

Aku menunggu untuk sesuatu yang pasti datangnya, seperti bumi yang menunggu hujan turun. Tak perlu di undang kelak dia akan datang. Sebab kapannya telah ditentukan. Kesedihan yang aku alami mungkin seperti musim kemarau yang mengeringkan bumi. Merintih kepada hujanpun untuk sekedar membasahi, hadirnya tetaplah nanti setelah musim berganti. Di saat lembayung bunga-bunga bersemi dan yang gugur akan terhenti di sanalah kau akan hadir di sisi.
Aku menunggu dengan alasan yang baik. tak peduli harus berapa dalam aku meredam untuk sebuah kerinduan dan tak menghitung seberapa panjang aku terjaga dalam penantian. Hingga sekalipun aku harus kehilangan kesabaran, lelah menahan cinta yang membara sampai membuat hatiku mati kering dan setiap saat harus bertengkar dengan egoku yang sudah sekarat. Aku akan tetap bertahan sayang, biarpun rindu membuatku layu semua itu karena hatiku lebih tau tentang siapa yang membuatku harus menunggu.

Kau tau? Hal apa yang harus kau bayar dariku karena telah setia untuk menunggumu. Kau harus membayar dengan seluruh waktumu untuk selalu setia menemaniku hingga napas ini menghilang di dada, hingga kita menua bersama. Kerena waktu adalah sebuah harga mahal dari menunggu, kau pasti mengerti menunggu untuk sesuatu yang berharga itu bagaimana ra-sanya. Karena kau selalu mengatakan bahwa aku begitu berharga, aku percaya kamu siap membayar semua itu sekalipun aku tak memintanya padamu.
Kau sudah memintaku untuk menunggu. Dan aku sedang melakukannya. Jadi aku ha-rap kau tak mengakhiri penantian ini dengan sebuah luka. Jika itu terjadi hari-hari nanti akan membuat hatiku mati. Karena yang memintaku untuk menunggu telah mengingkarinya dan hal itu akan membuatku kehilangan untuk percaya kembali pada sebuah harapan yang dinantikan.

***

“Ketika menunggu hal yang kunikmati adalah saat-saat menenggelamkan diriku dalam doa, saat-saat yang indah untuk menyakinkan hati tatkala keraguan datang dan saat-saat yang bermakna untuk mempertahankan cintaku tetap berada disisimu. Semua yang kulakukan telah menjadi bahasa kerinduanku padamu. Sejauh apapun jarak melintasi kita berdua, ditambah dengan banyak orang yang meminta untuk melupakan, namun tetap saja padamulah aku tetap berjuang.”

CINTA DENGAN BIJAKSANA

“Sebab aku bagimu hanya sepotong kenangan dari masa yang tak bernama, Dari masa yang menciptakan rasa, dari masa yang meciptakan air mata, dari masa yang pernah menciptakan bahagia dan dari masa yang diakhiri dengan kelukaan hati kita.”

Membaurlah doaku dengan senja dipelupuk langit yang terbuka. Jangan meredup meski tau bahwa gelap akan tiba. Tetaplah merekahkan senyum meski aku akan dilupa.

Sebab aku bagimu hanya sepotong kenangan dari masa yang tak bernama, Dari masa yang menciptakan rasa, dari masa yang meciptakan air mata, dari masa yang pernah menciptakan bahagia dan dari masa yang diakhiri dengan kelukaan hati kita.

Mas,, Hari ini aku akan melangkah melintas pada batas langit dan bumi. Menatap betapa luasnya dunia ini, mendengar riuhan harapan banyak orang, melakukan banyak hal untuk membahagiakan. Terkait cinta yang  telah diselesaikan diantara kita, mari kita sama-sama merelakan dan mengikhlaskan namun jangan sekali-kali kita saling melupakan. Biarpun memang ada luka namun tak pantas kita untuk saling melupa.

Dan untuk jodoh mari kita sama-sama mendoakan. Mari kita  bersabar dalam penantian. Jika waktu ke depan engkau lah yang akan datang kembali. Aku hanya bisa mempersilahkan tanpa menentang, meski saat ini kau lah lelaki yang melukai. Kau pun tau sendiri, aku hanya ingin berjodoh dengan lelaki yang lebih mencintai Allah. Jadi sudahkah kau mencitai Tuhan dengan begitu luarbiasa? Cukup cintai aku dengan sederhana saja.  Karena aku ingin dicintai dengan begitu bijaksana. 

Kini menjelma lah aku sebagai wanita yang dihujani rintik-rintik rindu  padamu setelah kata pisah kau ucapkan. Dengan kepiluan diam-dian aku menghrapkan, masihkah dirimu menunggu dan menuliskan rindu untukku. 

Aku tidak akan memberi tahumu bahwa kepingan rasa itu masih tetap ku simpan, bersama luka yang merekah begitu saja. Rasa yang diam dalam kesenyapan kata. Karena begitu takut kuakui bahwa ia masih ada. Aku hanya ingin mencintai dengan bijaksana tak membuang kata, tak membuang rasa padamu, tak membuang rindu padamu, cukup dengan memastikan bahwa lelaki yang kucintai akan selalu bahagia dan baik-baik saja.

Mari kita  menerbangkan secarik kertas harapan ke depan. Menyelami kehidupan dengan banyak pembelajaran demi mendapat sepotong jawaban yang membawa kabar untuk perasaan yang terbuang, untuk rindu yang kuredam, dan untuk dirimu yang  tetap diam dalam ingatan bahwa waktu akan membawa pembenaran pada setiap arti kehilangan.


IG:@sridewif41

WANITA PENIKMAT RINDU


Aku adalah si pemilik pena, yang senang bermain dengan kata. Bersahabat dengan jagad khayalku yang mempribahasakan dirimu dalam ribuan kalimat pujangga. Semua yang tertulis nyaris tertuju padamu. Dan aku tak tahu cara apa yang akan menghentikannya?


Apa yang kulakukan berwujud rindu, biar senduku memeranginya.

 Aku menjelma penikmat rindu yang hebat. Biar sakit membuatku sekarat. Kumiliki perisai hati dalam wujud doa. Karena  segenap usaha tak menghentikan juga. Dan telah Kuserahkan pada takdir yang akan mengambil perannya. Agar sesuatu yang kutunggu akan indah pada waktunya. 


Tentang dirimu, aku sudah tak ingin tau menau. Diamlah kau disana dalam rupa masa lalu. Yang selalu ada dibelakangku tanpa menjadi abu.

Tanpamu aku memang tak merasa lengkap namun aku tak boleh kehilangan semangat, untuk menjadi wanita bermartabat dalam hidupnya yang bermanfaat.



UNTUK TAMU YANG KAU BAWA

Di penghujung jalan aku memeluk cinta, luka dan sebuah ingatan. Sedepa rindu berbicara sakit menguyur seperti tetesan air hujan. Isak tangisan tak mampu kuwadahi sebab sakit membelukar ke ulu hati hingga  dada. Ketika aku sudah memutuskan untuk jatuh cinta  bukan berarti aku harus diam membiarkan hatiku tersakiti oleh yang kucinta. Kumohon kau pergilah… pergi tanpa perlu meninggalkan jejak-jejak agar kau bisa kembali.

Jangan pedulikan waktu yang panjang karena telah bersama. Nyatanya sebuah luka yang kau beri lebih panjang usianya dan aku akan kehilangan waktu walau sekedar untuk memulihkannya. Aku tak ingin menelusuri jejak sunyi yang akan membuka lembaran kisah yang ku kunci sebab kekecawaan, karena jika terbaca itu akan sangat menyakitkan. Mungkin aku akan melupakan.

Meski hujan selalu menghantarkan kerinduan kuhempaskan ia untuk tenggelam dilautan atau kubiarkan ia terbang tertiup tertiup angin, hingga luka ini hilang dan mengering. Aku tak ingin memasrahkan diri untuk menderita hanya sebuah, cinta aku tak ingin kalah sebab harapanku telah patah, aku tak ingin terus jatuh meski hati teramat rapuh dan aku tidak akan menyerah meski berulang dihantam luka yang menyedihkan. Akan ku perlihatkan padamu betapa kokohnya hati yang kumiliki.

Bagaimanapun aku harus  terus melangkah kedepan tidak mundur meski seluruh semesta mencaci kepedihanku. Aku seperti lingkaran anggka nol tida ada celah untuk kau tebas meski ruang kosong menganga besar didalamnya. Tak akan ku pedulikan sedikitpun tentangmu dengan segala daya ini, aku akan melepas segala rasa  yang kau beri nan indah dulu sebab jika kuizinkan untuk tetap diam dia akan menjamah rasa sakit dihatiku, semoga suatu hari kau akan mengerti arti siapa diriku.



DEWI

16- September 2016

DAN AKU TAK BISA

Kuharap kau akan seperti langit senja, tetap terlihat indah walau ia tahu akan ditinggalkan siang.

Merupalah aku sebagai bayanganmu, aku ingin setiap waktu bersamamu.

Merupalah aku sebagai tanganmu,  aku ingin menyeka keringat dan air matamu.

Aku hanya sekedar ingin, sekedar ingin. Karena kini aku tak lagi mampu walau hanya sekedar menatapmu atau meneduhkanmu dari terang yang terik lalu mendekapmu dari segala hal yang membuatmu sakit.


Bersama hujan kau tak perlu menangisiku, sebab kokoh kedua tanganmu tak  lagi bisa untuk menyentuhku. Sayang, tuhan telah mengsudahi waktuku hanya sampai disini saja untuk terjaga dalam hatimu.

Kini aku  memang serupa angin, ke dua mata coklat milikmu itu memang tak bisa melihatku. Tapi, hatimu tetap akan merasakan keberadaanku. 

Aku disini, menatapmu tiada henti. Aku disini, mendengarkan segala kesahmu. Aku disini, mencintaimu yang tak bisa terakhiri sekalipun waktu  mengsudahi hidupku sendiri seperti ini. Aku tetap sama, hatiku tetap bersamamu walau ragaku telah telah terpisah denganmu. Aku tetap hidup dalam hatimu.

Wujudku berupa udara, yang bisa kau hirup dalam-dalam. Memang tak berupa apapun, namun aku selalu menemanimu dalam dentang waktu berpacu meski tak ada lagi tatap menetap padaku. Sayang, aku telah meninggalkan rupa-rupa suara, agar ia terdiam dengan damai dalam ingatanmu  untuk kau gunakan sebagai alat untuk menyentuhku dengan rindu.


Aku tak ingin kau hantarkan sampai ke puncak sendumu. Kau tak kehilangan diriku, karena aku akan selalu disisimu seperti ini. 

Kau tau sayang, Aku sangat ingin mengukir sesuatu di lengkung senyummu. Jadi berjanjilah kau untuk selalu tersenyum dalam keadaan apapun. Biarkanlah harapanku tetap hidup bersama waktumu. Tetap berjalan melanjutkan kisah yang dulu tak kau pedulikan.  Biarkan harapanku menyeka sebuah tangisan yang dulu kau abaikan. Kini kau bisa menemuiku dengan membawa sekuntum doa. 


Lajur waktu memang telah bergerak begitu cepat. Maaf karena aku hanya bisa menemani sampai disini. Terimakasih telah melukis indah di kanvas hidupku dengan warna terindah walau begitu singkat dan masih terasa baru kemarin kau memulainya. 


Aku ingin mendekapmu dari kejauhan. Menyeka air mata yang membasahi pipi lembutmu. Meretas simpul-simpul yang mengikatmu kuat. Larut dalam bahagia yang kau rengkuh dari garis takdir. Aku ingin aku ada, Pada pagimu, Pada siangmu, Pada senjamu. Aku hanya ingin, sebatas ingin. DAN AKU TAK BISA. 

Meski tedengar terlalu naif, aku tak lekang diantar bangkai daun berjatuhan. Walau busuk wujudku terangkul tanah, dirimu akan abadi dalam hatiku sebagai satu-satunya lelaki yang teramat kucintai. Jika kau ingin membalasnya cukup cintailah aku dengan keikhlasanmu. Aku hanya pulang, kelak kita akan bertemu lagi meski dalam keadaan tak saling mengenal.  

Kuharap kau akan seperti langit senja, tetap terlihat indah walau ia tahu akan ditinggalkan siang yang terang. Langit senja tetap bahagia menyambut malam yang kelam karena di balik kegelapannya dihadirkan ribuan bintang yang menghias indah sepanjang malam.

Dewi