CINTA DENGAN BIJAKSANA

“Sebab aku bagimu hanya sepotong kenangan dari masa yang tak bernama, Dari masa yang menciptakan rasa, dari masa yang meciptakan air mata, dari masa yang pernah menciptakan bahagia dan dari masa yang diakhiri dengan kelukaan hati kita.”

Iklan

Membaurlah doaku dengan senja dipelupuk langit yang terbuka. Jangan meredup meski tau bahwa gelap akan tiba. Tetaplah merekahkan senyum meski aku akan dilupa.

Sebab aku bagimu hanya sepotong kenangan dari masa yang tak bernama, Dari masa yang menciptakan rasa, dari masa yang meciptakan air mata, dari masa yang pernah menciptakan bahagia dan dari masa yang diakhiri dengan kelukaan hati kita.

Mas,, Hari ini aku akan melangkah melintas pada batas langit dan bumi. Menatap betapa luasnya dunia ini, mendengar riuhan harapan banyak orang, melakukan banyak hal untuk membahagiakan. Terkait cinta yang  telah diselesaikan diantara kita, mari kita sama-sama merelakan dan mengikhlaskan namun jangan sekali-kali kita saling melupakan. Biarpun memang ada luka namun tak pantas kita untuk saling melupa.

Dan untuk jodoh mari kita sama-sama mendoakan. Mari kita  bersabar dalam penantian. Jika waktu ke depan engkau lah yang akan datang kembali. Aku hanya bisa mempersilahkan tanpa menentang, meski saat ini kau lah lelaki yang melukai. Kau pun tau sendiri, aku hanya ingin berjodoh dengan lelaki yang lebih mencintai Allah. Jadi sudahkah kau mencitai Tuhan dengan begitu luarbiasa? Cukup cintai aku dengan sederhana saja.  Karena aku ingin dicintai dengan begitu bijaksana. 

Kini menjelma lah aku sebagai wanita yang dihujani rintik-rintik rindu  padamu setelah kata pisah kau ucapkan. Dengan kepiluan diam-dian aku menghrapkan, masihkah dirimu menunggu dan menuliskan rindu untukku. 

Aku tidak akan memberi tahumu bahwa kepingan rasa itu masih tetap ku simpan, bersama luka yang merekah begitu saja. Rasa yang diam dalam kesenyapan kata. Karena begitu takut kuakui bahwa ia masih ada. Aku hanya ingin mencintai dengan bijaksana tak membuang kata, tak membuang rasa padamu, tak membuang rindu padamu, cukup dengan memastikan bahwa lelaki yang kucintai akan selalu bahagia dan baik-baik saja.

Mari kita  menerbangkan secarik kertas harapan ke depan. Menyelami kehidupan dengan banyak pembelajaran demi mendapat sepotong jawaban yang membawa kabar untuk perasaan yang terbuang, untuk rindu yang kuredam, dan untuk dirimu yang  tetap diam dalam ingatan bahwa waktu akan membawa pembenaran pada setiap arti kehilangan.


IG:@sridewif41

WANITA PENIKMAT RINDU


Aku adalah si pemilik pena, yang senang bermain dengan kata. Bersahabat dengan jagad khayalku yang mempribahasakan dirimu dalam ribuan kalimat pujangga. Semua yang tertulis nyaris tertuju padamu. Dan aku tak tahu cara apa yang akan menghentikannya?


Apa yang kulakukan berwujud rindu, biar senduku memeranginya.

 Aku menjelma penikmat rindu yang hebat. Biar sakit membuatku sekarat. Kumiliki perisai hati dalam wujud doa. Karena  segenap usaha tak menghentikan juga. Dan telah Kuserahkan pada takdir yang akan mengambil perannya. Agar sesuatu yang kutunggu akan indah pada waktunya. 


Tentang dirimu, aku sudah tak ingin tau menau. Diamlah kau disana dalam rupa masa lalu. Yang selalu ada dibelakangku tanpa menjadi abu.

Tanpamu aku memang tak merasa lengkap namun aku tak boleh kehilangan semangat, untuk menjadi wanita bermartabat dalam hidupnya yang bermanfaat.



UNTUK TAMU YANG KAU BAWA

Di penghujung jalan aku memeluk cinta, luka dan sebuah ingatan. Sedepa rindu berbicara sakit menguyur seperti tetesan air hujan. Isak tangisan tak mampu kuwadahi sebab sakit membelukar ke ulu hati hingga  dada. Ketika aku sudah memutuskan untuk jatuh cinta  bukan berarti aku harus diam membiarkan hatiku tersakiti oleh yang kucinta. Kumohon kau pergilah… pergi tanpa perlu meninggalkan jejak-jejak agar kau bisa kembali.

Jangan pedulikan waktu yang panjang karena telah bersama. Nyatanya sebuah luka yang kau beri lebih panjang usianya dan aku akan kehilangan waktu walau sekedar untuk memulihkannya. Aku tak ingin menelusuri jejak sunyi yang akan membuka lembaran kisah yang ku kunci sebab kekecawaan, karena jika terbaca itu akan sangat menyakitkan. Mungkin aku akan melupakan.

Meski hujan selalu menghantarkan kerinduan kuhempaskan ia untuk tenggelam dilautan atau kubiarkan ia terbang tertiup tertiup angin, hingga luka ini hilang dan mengering. Aku tak ingin memasrahkan diri untuk menderita hanya sebuah, cinta aku tak ingin kalah sebab harapanku telah patah, aku tak ingin terus jatuh meski hati teramat rapuh dan aku tidak akan menyerah meski berulang dihantam luka yang menyedihkan. Akan ku perlihatkan padamu betapa kokohnya hati yang kumiliki.

Bagaimanapun aku harus  terus melangkah kedepan tidak mundur meski seluruh semesta mencaci kepedihanku. Aku seperti lingkaran anggka nol tida ada celah untuk kau tebas meski ruang kosong menganga besar didalamnya. Tak akan ku pedulikan sedikitpun tentangmu dengan segala daya ini, aku akan melepas segala rasa  yang kau beri nan indah dulu sebab jika kuizinkan untuk tetap diam dia akan menjamah rasa sakit dihatiku, semoga suatu hari kau akan mengerti arti siapa diriku.



DEWI

16- September 2016

DAN AKU TAK BISA

Kuharap kau akan seperti langit senja, tetap terlihat indah walau ia tahu akan ditinggalkan siang.

Merupalah aku sebagai bayanganmu, aku ingin setiap waktu bersamamu.

Merupalah aku sebagai tanganmu,  aku ingin menyeka keringat dan air matamu.

Aku hanya sekedar ingin, sekedar ingin. Karena kini aku tak lagi mampu walau hanya sekedar menatapmu atau meneduhkanmu dari terang yang terik lalu mendekapmu dari segala hal yang membuatmu sakit.


Bersama hujan kau tak perlu menangisiku, sebab kokoh kedua tanganmu tak  lagi bisa untuk menyentuhku. Sayang, tuhan telah mengsudahi waktuku hanya sampai disini saja untuk terjaga dalam hatimu.

Kini aku  memang serupa angin, ke dua mata coklat milikmu itu memang tak bisa melihatku. Tapi, hatimu tetap akan merasakan keberadaanku. 

Aku disini, menatapmu tiada henti. Aku disini, mendengarkan segala kesahmu. Aku disini, mencintaimu yang tak bisa terakhiri sekalipun waktu  mengsudahi hidupku sendiri seperti ini. Aku tetap sama, hatiku tetap bersamamu walau ragaku telah telah terpisah denganmu. Aku tetap hidup dalam hatimu.

Wujudku berupa udara, yang bisa kau hirup dalam-dalam. Memang tak berupa apapun, namun aku selalu menemanimu dalam dentang waktu berpacu meski tak ada lagi tatap menetap padaku. Sayang, aku telah meninggalkan rupa-rupa suara, agar ia terdiam dengan damai dalam ingatanmu  untuk kau gunakan sebagai alat untuk menyentuhku dengan rindu.


Aku tak ingin kau hantarkan sampai ke puncak sendumu. Kau tak kehilangan diriku, karena aku akan selalu disisimu seperti ini. 

Kau tau sayang, Aku sangat ingin mengukir sesuatu di lengkung senyummu. Jadi berjanjilah kau untuk selalu tersenyum dalam keadaan apapun. Biarkanlah harapanku tetap hidup bersama waktumu. Tetap berjalan melanjutkan kisah yang dulu tak kau pedulikan.  Biarkan harapanku menyeka sebuah tangisan yang dulu kau abaikan. Kini kau bisa menemuiku dengan membawa sekuntum doa. 


Lajur waktu memang telah bergerak begitu cepat. Maaf karena aku hanya bisa menemani sampai disini. Terimakasih telah melukis indah di kanvas hidupku dengan warna terindah walau begitu singkat dan masih terasa baru kemarin kau memulainya. 


Aku ingin mendekapmu dari kejauhan. Menyeka air mata yang membasahi pipi lembutmu. Meretas simpul-simpul yang mengikatmu kuat. Larut dalam bahagia yang kau rengkuh dari garis takdir. Aku ingin aku ada, Pada pagimu, Pada siangmu, Pada senjamu. Aku hanya ingin, sebatas ingin. DAN AKU TAK BISA. 

Meski tedengar terlalu naif, aku tak lekang diantar bangkai daun berjatuhan. Walau busuk wujudku terangkul tanah, dirimu akan abadi dalam hatiku sebagai satu-satunya lelaki yang teramat kucintai. Jika kau ingin membalasnya cukup cintailah aku dengan keikhlasanmu. Aku hanya pulang, kelak kita akan bertemu lagi meski dalam keadaan tak saling mengenal.  

Kuharap kau akan seperti langit senja, tetap terlihat indah walau ia tahu akan ditinggalkan siang yang terang. Langit senja tetap bahagia menyambut malam yang kelam karena di balik kegelapannya dihadirkan ribuan bintang yang menghias indah sepanjang malam.

Dewi

 WANITA, HATI DAN LELAKI

“Jika memang kau lelaki, datanglah ke rumahku nanti. Pintalah hatiku pada ayah bundaku, karena hanya dengan izinnya akan kuberikan hatiku untukmu”

 

​Yang ku anggap sebagai rumah telah hancur, yang ku anggap sebagai tujuan telah hilang, tak ada lagi hal indah yang ku kenang selain tangisan yang memilukan.

Marah kepada siapa? kepadamu yang sudah tidak ada? Ahh… itu hanya membuatku gila. Aku yang salah, aku !! karena aku yang sampai saat ini masih mencintaimu. Lelakiku, dustamu sudah terkuak kemudian ia hadir dan mengkacaukan hidupku, tak ada kah cara lain untuk menyakitiku? Karena memang nyerinya begitu hebat menyayat-nyayat.

Karenamu hatiku,, semakin hari semakin sakit dan aku sudah tak bisa menahan lagi. Haruskah kutemui semua laki-laki di dunia ini? Dan kutanyakan kepada mereka satu persatu? Kenapa? Kenapa kau mengejar wanita jika kau akan meninggalkan nya? Kenapa kau memperlihatkan ketulusan jika kau hanya menjadikannya sebagai persinggahan? Kenapa kau mengungkap keseriusan jika niatmu hanya mempermainkan?

Apa ini adil? Tidak kah lebih baik jika kau katakan apa adanya yang kau rasa karena jika telah tumbuh begitu lama akarnya akan menjerat kuat dan jika dikemudian hari kau cabut akan meninggalkan sakit yang berkali-kali lipat.

Ya,,, perkara hati seorang wanita memang rumit karena hakikat dihatinya bukanlah tempat yang harus kau kejar untuk dimenangkan, lalu setelah itu dibiarkan. Tetapi hatinya adalah tempat yang harus kau perjuangakan untuk  didapatkan sebagai tempat tinggal. Kau tau kenapa? karena hatinya begitu berharga, karena hatinya terlalu istimewa dan karena hatinya adalah  mata air kasih sayang, mata air kelembutan,  mata air ketulusan. Yang tak akan kau temukan di tempat manapun selain di hati seorang wanita yang benar-benar mencintaimu.
***

“Jika memang kau lelaki, datanglah ke rumahku  nanti.  Pintalah hatiku pada ayah bundaku,  karena hanya dengan izinnya akan kuberikan hatiku untukmu”


 

 

DEWI

 


Sebuah Rindu yang Tak Layak Kau Dapat

Hal yang harus kulakukan saat ini aku harus mencoba untuk membuka hati kembali, dan melepas semua perasaan ini. Akan ku terbangkan rindu yang selalu setia ada padamu. Percuma, rindu menggunung pun hanya akan terlihat seperti abu dimatamu. Tidak berarti lagi.

Terimakasih Rinduku, kau telah setia menemani di saat hari-hari mencatat kisah sedih. Kau bertahan meski berulang-ulang ku usir pergi. Pergilah,,, kemanapun yang kau mau. Temui aku meski itu sesekali, Karena aku adalah tempat dimana dirimu berasal.

​”Pada setiap litani rindu mendera, Ku titipkan bersama derasnya gelombang. Harap rindu menepi, Pada lelaki yang ku cinta di ujung sebrang.”



Bila kau memang memiliki hati tak perlu kau temui aku lagi. Berhentilah untuk bertanya walau sekedar bertukar kabar, Kau pun tau kabarku tak begitu baik setelah kau meninggalkanku. Jadi untuk apa kau membuang banyak kalimat untuk bertanya padahal kau tau sendiri jawabannya seperti apa.

Sayang,, aku tak lupa atas apa yang kau lakukakan karena begitu hingar teringat dalam pikiran atas ungkapan manis dan indahnya harapan yang kau pakai sebagai alat untuk bermain dengan perasaan yang tumbuh disertai ketulusan, hati yang kau undang dulu kau janjikan sebagai tempat kau pulang, nyatanya aku kau jadikan sebagai persinggahan. Ahh kau begitu kejam sayang.


Tentangmu  kedua bibir ini sudah kelu sebab sehari-hari aku  meratapi parau harapan yang melangkah tertatih-tatih membawa sebongkah rindu menjemu bau busuk padamu. Sungguh sayang mengingatmu aku tak lagi mampu. Enyahlah segera  dalam ingatanku walau sebenarnya hati menetap mencintaimu.


Andai kau melihat ranumnya rindu merekah sepanjang hari yang terus ku caci. Kau ingin tau kenapa ia ku caci maki? Sebab tak pantas dia ada di saat seperti ini, sebab tak wajar kehadirannya dalam hati ini. Rinduku hari kita berdamai, berilah aku satu alasan kenapa kau terus bertahan? Rindu itupun diam. Dia seakan membisikan kata pada hati. “Karena aku masih percaya”.


Kini bersama wanita barumu, Aku harap kau akan membuatnya bahagia. Jangan kau cintai dia dengan kepura-puran sebab kau tak tau betapa sakit dicintai dengan kepalsuan.

Cukup aku yang kau patahkan jangan bertambah lagi korban. Saat ini aku memang patah, tapi patah tak akan membuatku lemah. Sekilas aku memang tak utuh namun hal itu tak lantas membuatku rapuh. Aku adalah jiwa yang kuat meski berjuta kali kau guncang aku dengan sakit yang menggucang hebat.

Aku tak ingin hidup dengan perasaan yang mati. Pergilah segala rasa yang tumbuh di dalam hati, keberadaanmu hanya membuatku nyeri bak di tusuk berkali-kali.

Memang ada rindu yang kurasa berlipat-lipat namun karena kau undang wanita lain rindu itu tak pantas kau dapat. Lelakiku, ingatlah wajah wanita usang yang kau buang ini. Ingatlah aku baik-baik karena suatu hari kau tak akan mengenali rupaku  yang sudah bersemi kembali.

Benar-benar bodoh  setelah sekian lama aku memutuskan berjalan di belakangmu, untuk mengawasi perjalananmu. Kemudian kau buat aku seperti ini?  Tak mengapa, biarpun satu harapan gugur, biarpun satu akar yang busuk membuatku layu, biarpun aku hidup compang-camping seperti tanaman kehilangan air akan tetapi hal itu tidak lantas membuatku mati. Aku akan tetap bersemi di bawah langit yang menanti hujan turun ke bumi.


Lantas kepada siapa aku mencurahkan? Kepada Hujan turun? ia sudah nampak enggan. Ku sapapun ia tak memberi jawa ban. Masih ingat ketika dulu, Hujan seakan menari-nari di saat aku merindukanmu, tapi kini ia merupa sendu tidak semerdu saat bersamamu. Apa mungkin ia merasakan kesedihan?


Rindu yang bodoh atau aku yang terlalu cinta?  Hal yang benar-benar sakit kurasakan saat ini adalah sebab  diriku yang terlalu berharap dan itu salah. Cinta dan rindu hanya menghubungkan sebab akibat saja, karena jika ada cinta pasti ada rindu bukan?


Biarpun keputusan itu sudah di pilih. Kita melangkahkan kaki menunu jalan masing-masing, Namun kepercayaanku padamu tidaklah lantas meninggalkan ia  masih saja menetap di hati. Meski berkali-kali ia di dikecewakan namun itu tak membuatnya untuk pergi. Dan aku tak mengerti.


Jika kepercayaanku yang tak pudar adalah suatu pertanda bahwa suatu hari nanti dia akan kembali baiknya akan kuredam rindu ini, tapi jika tidak pergilah sedari sekarang. Karena aku sudah mengikhlaskan, kau sudah kulepaskan. Dan aku sudah bsiap menghadapi hari-hari tanpamu, biar terasa sakit mencekik namun waktu akan mengobatinya.



***


“Saat ini hal yang harus kulakukan saat ini aku harus mencoba untuk membuka hati kembali, dan melepas semua perasaan ini. Akan ku terbangkan rindu  yang selalu setia ada padamu. Percuma, rindu menggunung pun hanya akan terlihat seperti abu dimatamu. Tidak berarti seperti dulu.

Dan ku ucapkan terimakasih kepada rinduku. Biarpun kau kusakiti, biarpun kau terus ku caci, biarpun berkali-kali ku usir pergi. Namun kau begitu setia menemani di saat setiap hari melarutkan kesedihan yang tak terobati .  Dengan kuat kau bertahan tinggal di hati ini.  Jika ada alasan yang tak ku ketahui dengan keberadaan saat ini, maka diamlah sampai aku menemukan jawabannya. Tapi jika tak ada, silahkan kau pergi kemanapun yang kau hendaki. Temui aku meski itu sesekali,  Karena aku  adalah tempat dimana dirimu berasal.”


DEWI

​MENCINTAIMU BEGITU SAKIT, SAAT INI

“Mungkin kau harus kuberi tahu, untuk sementara waktu menghadapimu aku tak lagi mampu. Sampai aku menemukan hari dimana aku akan terbiasa tanpamu.
Aku akan tetap percaya, sejauh apapun kau pergi jika kau menjadi bagian dari takdirku, kau akan kembali padaku”.

Setiap malam hatiku seakan berlari mengejar sosok yang hampir hilang diantara gemintang. Namun setiba aku mengingat wajahmu, aku menemukan kepingan hati yang sengaja kau pecahkan dulu.  Aku mendengar tangis dengan isakan-isakan parau datang dari diriku sendiri. Rasa ini sekonyong-konyong menghajar semua tawa yang menutup topeng bahagiaku. 

Apakah mungkin bisa, takdir memepermainkan segala rasaku tanpa mau tahu? Kalau lah harap menjadi durja yang memelukku dengan belati yang menghunus hingga hati, tak baik aku melakukan hal demikian bila masih mencintai. Sayang izinkan aku berkata jujur, sebenarnya tanpamu aku hanyalah manusia yang hidup tanpa nyawa, yang rela menjadi budak pilu di malam pekat penuh haru.

Sampai kapan? Sampai kapan kekelaman menjadi kabut di langit biruku? Hujan itu masih saja membasahi hati, membasahi setiap luka yang tak ujung mengering. Aku lelah sekali, berlari-lari dari badai yang mengejarku untuk dirapuhkan. Badai yang telah kau undang kemarin. Walau sebenarnya aku begitu berusaha keras agar tak terhindar, akan tetapi tetap saja badai itu telah menghancurkan diriku pada hal-hal yang kupercaya, setiap hal yang kujaga setelah sekian lama.

Terkadang aku ingin menghentikan saja hari-hariku karena rindu itu berdatangan bersama waktu. Tentangmu dan selalu tentangmu. Entahlah,,, aku bingung dengan perasaan yang telah merampas diriku sendiri. Aku bingung bukan karena aku masih saja merindukan namun apa yang kau ambil dari hidupku, karena kau telah merampas segala hal yang menjadi diriku.

Untuk melupakanmu aku sampai mengkerahkan seluruh dayaku karena aku tak ingin wajahmu melintas dalam ingatanku, sedekitpun. Menyebut namamu saja sudah ku tepis jauh dari lidahku, semua itu kulakukan sebab aku sudah kelelahan. 

Aku ingin berhenti dan mengsudahi perasaan ini. Aku ingin seperti wanita lain yang hidup bahagia bersama orang yang dicintainya dan mencintainya. Aku sangat ingin merasakan itu.

Aku yang membenci segala hal tentangmu demi sebuah alasan dan aku pula yang  mencin-tai segala hal tentangmu tanpa perlu sebuah alasan. Aku seakan memilih hidup dan mati. Hidup dengan rasa benci atau mati karena mencintai. 

Apa yang akan kamu lakukan jika menjadi diriku? Yang sudah sepenuh hati mencintaimu yang sudah memutuskan untuk memilihmu namun kau kecewakan hingga aku tak mampu lagi untuk bertahan. Jika hanya sekali mungkin itu mudah tapi ini berkali-kali dan berlipat-lipat hingga aku pun tak mampu mengukur sudah sejauh mana aku bertahan.

Jika aku menulis semua tentangmu dan menceritakan cintaku rasanya catatan ini tidak akan berhujung, mungkin sampai waktu terbenam dan aku ditenggalamkan kematian baru aku akan berhenti karena tangan ini sudah tidak mampu menulis lagi . Untuk  menulis segala hal yang menjadi dirimu dalam hidupku rasanya aku tidak akan perlu membutuhkan ribuan pena dan ribuan lembar kertas buku karena dirimu berada dalam pikiranku.

***

“Mungkin kau harus kuberi tahu, untuk sementara waktu menghadapimu aku tak lagi mampu. Sampai aku menemukan hari dimana aku akan terbiasa tanpamu. Aku akan tetap percaya, sejauh apapun kau pergi jika kau menjadi bagian dari takdirku, kau akan kembali padaku”.